Friday, September 05, 2008

Tentang Keikhlasan...


diceritakan oleh: Dee Dee

Ini cerita tentang Annisa, gadis kecil berusia lima tahun. Suatu sore, Annisa menemani Bundanya berbelanja di suatu supermarket. Ketika menunggu giliran membayar, Annisa melihat sebentuk kalung mutiara putih berkialuan, tergantung dalam kotak berwarna pink yang sangat cantik. Kalung itu nampak begitu indah, sehingga Annisa sangat ingin memilikinya.


Tapi, dia tahu, pasti Bundanya sangat keberatan. Seperti biasanya, sebelum berangkat ke supermarket dia sudah berjanji tidak akan meminta apapun selain yang sudah disetujui untuk dibeli. Dan tadi Bundanya sudah menyetujui untuk membelikannya kaos kaki berenda yg cantik.


Namun karena kalung itu sangat indah, diberanikannya untuk bertanya Bunda bolehkah Annisa memiliki kalung ini? Bunda boleh mengembalikan kaos kaki yang tadi… Sang Bunda segera mengambil kotak kalung dari Annisa. Dibaliknya tertera harga Rp 15,000,-. Dilihatnya mata Annisa yg memandangnya dengan penuh harap dan cemas.



Sebenarnya dia bisa saja langsung membelikan kalung itu, namun ia tidak mau bersikap tidak konsisten. Oke…Annisa, kamu boleh memiliki kalung ini. Tapi kembalikan kaos kaki yg kau pilih tadi. Dan karena harga kalung ini lebih mahal dari kaos kaki itu, Bunda akan potong uang tabunganmu untuk minggu depan. Setuju?

Annisa mengangguk lega dan segera berlari irang mengembalikan kaos kaki ke raknya.
Terimakasih. ..Bunda. Annisa sangat menyukai dan menyayangi kalung mutiaranya. Menurutnya kalung itu membuatnya nampak cantik dan dewasa. Dia merasa secantik Bundanya. Kalung itu tidak pernah lepas dari lehernya, bahkan ketika tidur. Kalung itu hanya dilepaskannya jika mandi atau berenang. Sebab, kata Bundanya, jika basah kalung itu akan rusak, dan membuat lehernya menjadi hijau.


Setiap malam sebelum tidur, Ayah Annisa akan membacakan cerita pengantar tidur. Pada suatu malam, ketika selesai membacakan sebuah cerita, Ayah bertanya: Annisa, Annisa sayang nggak sama Ayah?


Tentu dong Ayah pasti tahu kalau Annisa sayang Ayah!

Kalau begitu, berikan kepada Ayah kalung mutiaramu.

Yah, jangan dong Ayah! Ayah boleh ambil Si Ratu boneka kuda dari nenek! Itu kesayanganku juga.

Ya sudahlah sayang nggak apa-apa!

Ayah mencium pipi Annisa sebelum keluar dari kamar Annisa.


Kira-kira semingu berikutnya setelah selesai membacakan cerita, Ayah bertanya lagi:

Annisa, Annisa sayang nggak sama Ayah?

Ayah, Ayah tahu bukan kalau Annisa sayang banget sama Ayah?

Kalau begitu berikan pada Ayah kalung mutiaramu.

Jangan Ayah, tapi kalau Ayah mau, Ayah boleh ambil boneka Barbie ini.

Annisa seraya menyerahkan boneka Barbie yang selalu menemaninya bermain.


Beberapa malam kemudian, ketika Ayah memasuki kamarnya, Annisa sedang duduk di atas tempat tidurnya. Ketika didekati, Annisa rupanya menangis diam-diam. Kedua tangannya tergenggam diatas pangkuan. Dari matanya, mengalir bulir-bulir air mata membasahi pipinya.

Ada apa Annisa, kenapa Annisa?

Tanpa berucap sepatah kata pun, Annisa membuka tangannya. Di dalamnya melingkar cantik kalung mutiara kesayangannya.

Kalau Ayah mau ambillah kalung Annisa.


Ayah tersenyum mengerti, diambilnya kalung itu dari tangan mungil Annisa. Kalung itu di masukkan kedalam kantong celana. Dan dari kantong satunya, dikeluarkan sebentuk kalung mutiara putih sama cantiknya dengan kalung yang sangat disayangi Annisa.

Annisa, ini untuk Annisa. Sama bukan?

Memang begitu nampaknya tapi kalung ini tidak akan membuat lehermu menjadi hijau.
Ya, ternyata Ayah memberikan kalung mutiara asli untuk menggantikan kalung mutiara imitasi Annisa.


Sahabat, demikian pula halnya dengan Allah. Terkadang Dia meminta sesuatu kepada kita, karena Dia berkenan untuk menggantikannya dengan yang lebih baik. Namun, kadang-kadang kita seperti atau lebih naïf dari Annisa: menggenggam erat sesuatu yang kita amat berharga, dan oleh karenanya tidak ikhlas bila harus kehilangannya.

LENTERA JIWA (on behalf of Andi F. Noya)


Banyak yang bertanya mengapa saya mengundurkan diri sebagai pemimpin
redaksi Metro TV. Memang sulit bagi saya untuk meyakinkan setiap
orang yang bertanya bahwa saya keluar bukan karena pecah kongsi dengan
Surya Paloh, bukan karena sedang marah atau bukan dalam situasi yang
tidak menyenangkan. Mungkin terasa aneh pada posisi yang tinggi,
dengan power yang luar biasa sebagai pimpinan sebuah stasiun televisi
berita, tiba-tiba saya mengundurkan diri.

Dalam perjalanan hidup dan karir, dua kali saya mengambil keputusan
sulit. Pertama, ketika saya tamat STM. Saya tidak mengambil peluang
beasiswa ke IKIP Padang. Saya lebih memilih untuk melanjutkan ke
Sekolah Tinggi Publistik di Jakarta walau harus menanggung sendiri
beban uang kuliah. Kedua, ya itu tadi, ketika saya memutuskan untuk
mengundurkan diri dari Metro TV.

Dalam satu seminar, Rhenald Khasali, penulis buku Change yang saya
kagumi, sembari bergurau di depan ratusan hadirin mencoba menganalisa
mengapa saya keluar dari Metro TV. Andy ibarat ikan di dalam kolam.
Ikannya terus membesar sehingga kolamnya menjadi kekecilan. Ikan
tersebut terpaksa harus mencari kolam yang lebih besar. Saya tidak
tahu apakah pandangan Rhenald benar. Tapi, jujur saja, sejak lama
saya memang sudah ingin mengundurkan diri dari Metro TV. Persisnya
ketika saya membaca sebuah buku kecil berjudul Who Move My Cheese.
Bagi Anda yang belum baca, buku ini bercerita tentang dua kurcaci.
Mereka hidup dalam sebuah labirin yang sarat dengan keju. Kurcaci
yang satu selalu berpikiran suatu hari kelak keju di tempat mereka
tinggal akan habis. Karena itu, dia selalu menjaga stamina dan
kesadarannya agar jika keju di situ habis, dia dalam kondisi siap
mencari keju di tempat lain. Sebaliknya, kurcaci yang kedua, begitu
yakin sampai kiamat pun persediaan keju tidak akan pernah habis.

Singkat cerita, suatu hari keju habis. Kurcaci pertama mengajak
sahabatnya untuk meninggalkan tempat itu guna mencari keju di tempat
lain. Sang sahabat menolak. Dia yakin keju itu hanya dipindahkan oleh
seseorang dan nanti suatu hari pasti akan dikembalikan. Karena itu
tidak perlu mencari keju di tempat lain. Dia sudah merasa nyaman.
Maka dia memutuskan menunggu terus di tempat itu sampai suatu hari
keju yang hilang akan kembali. Apa yang terjadi, kurcaci itu menunggu
dan menunggu sampai kemudian mati kelaparan. Sedangkan kurcaci yang
selalu siap tadi sudah menemukan labirin lain yang penuh keju. Bahkan
jauh lebih banyak dibandingkan di tempat lama.

Pesan moral buku sederhana itu jelas: jangan sekali-kali kita merasa
nyaman di suatu tempat sehingga lupa mengembangkan diri guna
menghadapi perubahan dan tantangan yang lebih besar. Mereka yang
tidak mau berubah, dan merasa sudah nyaman di suatu posisi, biasanya
akan mati digilas waktu.

Setelah membaca buku itu, entah mengapa ada dorongan luar biasa yang
menghentak-hentak di dalam dada. Ada gairah yang luar biasa yang
mendorong saya untuk keluar dari Metro TV. Keluar dari labirin yang
selama ini membuat saya sangat nyaman karena setiap hari keju itu
sudah tersedia di depan mata.
Saya juga ingin mengikuti lentera jiwa saya. Memilih arah sesuai
panggilan hati. Saya ingin berdiri sendiri.

Maka ketika mendengar sebuah lagu berjudul Lentera Hati yang
dinyanyikan Nugie, hati saya melonjak-lonjak. Selain syair dan pesan
yang ingin disampaikan Nugie dalam lagunya itu sesuai dengan kata
hati saya, sudah sejak lama saya ingin membagi kerisauan saya kepada
banyak orang. Dalam perjalanan hidup saya, banyak saya jumpai orang-
orang yang merasa tidak bahagia dengan pekerjaan mereka. Bahkan
seorang kenalan saya, yang sudah menduduki posisi puncak di suatu
perusahaan asuransi asing, mengaku tidak bahagia dengan pekerjaannya.
Uang dan jabatan ternyata tidak membuatnya bahagia. Dia merasa
lentera jiwanya ada di ajang pertunjukkan musik. Tetapi dia takut
untuk melompat. Takut untuk memulai dari bawah. Dia merasa tidak siap
jika kehidupan ekonominya yang sudah mapan berantakan. Maka dia
menjalani sisa hidupnya dalam dilema itu. Dia tidak bahagia.

Ketika diminta untuk menjadi pembicara di kampus-kampus, saya juga
menemukan banyak mahasiswa yang tidak happy dengan jurusan yang
mereka tekuni sekarang. Ada yang mengaku waktu itu belum tahu ingin
menjadi apa, ada yang jujur bilang ikut-ikutan pacar (yang belakangan
ternyata putus juga) atau ada yang karena solider pada teman. Tetapi
yang paling banyak mengaku jurusan yang mereka tekuni sekarang dan
membuat mereka tidak bahagia adalah karena mengikuti keinginan
orangtua.

Dalam episode Lentera Jiwa (tayang Jumat 29 dan Minggu 31 Agustus
2008), kita dapat melihat orang-orang yang berani mengambil keputusan
besar dalam hidup mereka. Ada Bara Patirajawane, anak diplomat dan
lulusan Hubungan Internasional, yang pada satu titik mengambil
keputusan drastis untuk berbelok arah dan menekuni dunia masak
memasak. Dia memilih menjadi koki. Pekerjaan yang sangat dia sukai
dan menghantarkannya sebagai salah satu pemandu acara masak-memasak
di televisi dan kini memiliki restoran sendiri. Saya sangat bahagia
dengan apa yang saya kerjakan saat ini, ujarnya. Padahal, orangtuanya
menghendaki Bara mengikuti jejak sang ayah sebagai diplomat.

Juga ada Wahyu Aditya yang sangat bahagia dengan pilihan hatinya
untuk menggeluti bidang animasi. Bidang yang menghantarkannya
mendapat beasiswa dari British Council. Kini Adit bahkan membuka
sekolah animasi. Padahal, ayah dan ibunya lebih menghendaki anak
tercinta mereka mengikuti jejak sang ayah sebagai dokter.

Simak juga bagaimana Gde Prama memutuskan meninggalkan posisi puncak
sebuah perusahaan jamu dan jabatan komisaris di beberapa perusahaan.
Konsultan manajemen dan penulis buku ini memilih tinggal di Bali dan
bekerja untuk dirinya sendiri sebagai public speaker.

Pertanyaan yang paling hakiki adalah apa yang kita cari dalam
kehidupan yang singkat ini? Semua orang ingin bahagia. Tetapi banyak
yang tidak tahu bagaimana cara mencapainya.

Karena itu, beruntunglah mereka yang saat ini bekerja di bidang yang
dicintainya. Bidang yang membuat mereka begitu bersemangat, begitu
gembira dalam menikmati hidup. Bagi saya, bekerja itu seperti
rekreasi. Gembira terus. Nggak ada capeknya, ujar Yon Koeswoyo, salah
satu personal Koes Plus, saat bertemu saya di kantor majalah Rolling
Stone. Dalam usianya menjelang 68 tahun, Yon tampak penuh enerji,
dinamis. Tak heran jika malam itu, saat pementasan Earthfest2008, Yon
mampu melantunkan sepuluh lagu tanpa henti. Sungguh luar biasa. Semua
karena saya mencintai pekerjaan saya. Musik adalah dunia saya. Cinta
saya. Hidup saya, katanya.

Berbahagialah mereka yang menikmati pekerjaannya. Berbahagialah
mereka yang sudah mencapai taraf bekerja adalah berekreasi. Sebab
mereka sudah menemukan lentera jiwa mereka.